Selasa, 16 Agustus 2011

A Book to Read


When I saw this book for the first time I didn’t expect that this is a book about financial planning. I thought this book was about revolution, reformation or something like that. Just look at the cover. Don’t you think so??    

So, after reading the brief content of this book I decided to buy this book and I’m really glad for making the right decision. This book is much recommended. It explains the importance of financial planning, investment instruments and also the guidance to set up your financial plan with simple language which makes this book very easy to understand.  It simplifies Robert T. Kiyosaki’s Rich Dad Poor Dad and can be used as a supplement for that book.

The writer is my favorite financial planner and a very successful career woman and mother. Salute for Mrs. Ligwina Hananto for inspiring me and many others. 

Senin, 06 Juni 2011

Hi there…

Last week was such a wonderful week. 

Menimbang ketidakefisienan kinerja pegawai di hari kejepit dan mengingat banyaknya pegawai yang mengajukan cuti pada hari kejepit sebelumnya, kali ini kantor saya menerapkan kebijakan cuti bersama. Sebagai karyawan baru yang belum mendapat jatah cuti tahunan, rasanya seperti mendapatkan durian runtuh bisa libur 4 hari berturut-turut. Jadilah saya mudik ke kampong halaman untuk berkumpul dengan keluarga tercinta dan bertemu dengan sahabat2 lama.

Rasanya menyenangkan bisa berkumpul lagi dengan sahabat2 lama. Meskipun hamper 5 tahun berlalu setelah hari kelulusan SMA kami, rasanya sangat menyenangkan bahwa mereka masih ada di sana sama seperti dulu. Tentu saja seiring bertambahnya usia, apa yang kami perbincangkan pun mengalami sedikit perubahan, sharing mengenai pekerjaan dan rencana masa depan (baca: pernikahan, red.) kerap kali menjadi trending topics. Ditemani secangkir kopi hangat, mendoan panas, nasi megono, serta pengamen dan pengemis yang datang silih berganti, pertemuan selama 4 jam itu terasa berjalan sangat cepat.  Sangat singkat memang tapi sungguh puas bisa bercengkrama dengan mereka lagi. Semoga kita bisa terus tetap seperti ini 5 tahun…10 tahun…ataupun 20 tahun lagi…



Thanks for the short yet meaningful night, terima kasih untuk petuah2 yang mencerahkan, terima kasih untuk kisah2 yang menginspirasi, terima kasih  untuk celotehan2 yang menambah wawasan. Terima kasih untuk waktu kalian AnisatulMaghfiroh, Intan Effendi, Ragil Maulana, Devi Ratnasari, Yoga Tsanindita, Puspita Siswi Pratiwi, Farid Ahmad, Nurul Rahmawati, Pungky Dwi Saputra, EkaYuningsih Saputri, Moh. Rofi’udin, dan terima kasih untuk traktirannya M.IlhamRamadhan.

***

Go Blog Again!!

Ngek ngok…dah hampir setahun ga nulis blog nih…

Cukup banyak hal yang terjadi selama 10 bulan terakhir ini. Mulai dari kabur dari skripsi dan backpackeran ke Malay-Sin, ujian pendadaran, kerja untuk pertama kalinya, resign untuk pertama kalinya juga, wisuda, luntang-luntung jadi pengangguran, sampe akhirnya dapet kerjaan lagi di tempat yang sekarang.

Ngabur dari skrip-sweet (lagi)
Setelah sebelumnya saya sempet menghindari skripsi dan kabur exchange ke negeri sakura, kali ini saya kabur lagi dari skripsi dan pergi ke Negara tetangga. Tapi tentu saja, secara kali ini saya ga dapet sponsor dari mana2, saya harus kerja sambilan dan nabung dulu buat jalan2 kali ini. Untungnya saya dapet tiket promo kursi gratis dari perusahaan penerbangan ini. Bersama dua orang teman, saya pergi ke Negara tetangga selama 7 hari dengan budget kurang dari 1,5 jt rupiah (all in, termasuk tiket pesawat PP). 

Sebelum berangkat,saya ga pamit sama ayah saya…. Seriously, I didn’t tell him that I wanted to go abroad, soalnya saya tahu kalau saya minta ijin, pasti ga bakal dikasih meskipun saya jalan2 pake duit saya sendiri. Padahal kan sayang banget kalo batal pergi waktu itu, kapan lagi coba bisa dapet tiket murah meriah yang bahkan lebih murah daripada tiket kereta kelas bisnis Jakarta-jogja??? Apalagi waktu itu saya lagi stuck banget sama skripsi and desperately need holiday. Akhirnya waktu itu saya Cuma pamit sama ibu saya dan akhirnya dengan restu dari ibu tercinta saya terbang ke negeri tetangga. Pulang jalan2, saya dimarahi oleh ayah saya,haha...

Ujian pendadaran dan komprehensif
Diluar berbagai desas-desus dan legenda yang mewarnai cerita mengenai 2 ujian ini, ujian saya terbilang cukup lancer dan normal. Saya bersyukur mendapatkan dosen2 penguji yang baik hati, walaupun kadang suka ngasih pertanyaan yang tricky. Akhirnya setelah berjuang selama 3 tahun 11 bulan, saya mendapatkan gelar sarjana di bulan Agsutus 2010.
Credit to: Prof. Dr. Zaki Baridwan, Ph.D., Mr. Bambang Riyanto,Ph.D., and Mr. Sumiyana, Ph.D.

Getting my first job and writing my first resignation letter
Sebagian besar mahasiswa akuntansi bercita-cita bekerja di KAP setelah lulus, begitu pula saya. And I made it. Alhamdulillah, 3 bulan sebelum saya lulus, saya di terima di salah satu KAP di ibukota. Meskipun banyak mendengar desas-desus yang kurang menyenangkan mengenai pekerjaan ini, saya memutuskan untuk mencobanya karena menurut saya, pekerjaan ini merupakan salah satu bidang kerja dimana ilmu2 yang saya pelajari selama saya kuliah akan benar2 saya terapkan. 

So I packed my stuffed and moved from Jogja to Jakarta to start a new life as an auditor. But, it only last for 2,5 months…yeep…ga keren dan sangat payah emang, tapi saya Cuma bertahan 2,5 bulan di sana. Banyak alasan, tetapi intinya adalah saya merasa bahwa tempat saya bukan di sana. Setelah pertimbangan yang panjang dan restu dari orang tua saya, akhirnya saya menulis surat pengunduran diri dan meninggalkan pekerjaan pertama saya.

Konsekuensi dari keputusan tersebut adalah saya menjadi pengangguran. Yupp… selama 3 bulan setelah resign saya menjadi penganguran.

Graduation Day
Setelah menunggu selama 6 bulan, akhirnya saya diwisuda di bulan Februari 2011. Seharusnya saya wisuda di bulan November, tetapi karena letusan gunung Merapi akhirnya wisuda November dibatalkan dan diganti di bulan Januari. 

And finally….here I am…
Dan Allah pun akhirnya mengabulkan doa saya. Dua minggu setelah wisuda saya packing lagi dan pindah ke pinggiran ibu kota.

Kantor saya sekarang memang tidak setenar kantor saya sebelumnya, tidak punya afiliasi asing, tidak terletak di gedung pencakar langit di pusat perkantoran di tengah kota, tidak punya lift, jauh dari mall, dan umurnya pun bisa dibilang masih seumur jagung. Tetapi kantor saya memberikan benefit dan fasilitas yang lebih baik, kesempatan berkembang yang lebih terbuka, dan lingkungan perusahaan yang lebih menyenangkan. Dan….tinggal di pinggiran ibu kota means lower cost of life… Selain itu, satu hal yang saya sukai dari kantor yang kecil adalah saya bisa mengenal seluruh orang-orang di dalamnya, mulai dari Direktur sampai ke satpam dan OB. 

Hopes that I can work well and do my best here :)

***

Rabu, 28 Juli 2010

:curcol:

Huwwooo...sudah lama sekali saya tidak posting apa2 di blog ini...

Sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sudah bosan kuliah, kegiatan saya akhir2 ini diisi dengan ritual mengerjakan skripsi, belajar untuk ujian pendadaran dan komprehensif, serta iseng-iseng ikutan job recruitmen sambil mengisi waktu luang. Saking seringnya ikutan job recruitment, smpe2 temen2 saya mengira saya sudah lulus,haha...

Lumayan juga ikut2an job recruitment, setidak-tidaknya jadi punya gambaran proses rekrutmen sama jenis2 tes itu kayak gimana, pertanyaan-pertanyaan interview kayak gimana, juga dapat gambaran berbagai ttg bbg perusahaan. Trus lumayan juga dapet konsumsi dan kadang2 merchandise gratis, hehe...

Anyway, untuk sementara sepertinya saya harus menghentikan kegiatan tersebut dan fokus untuk persiapan ujian pendadaran dan komprehensif bulan depan. Semoga saya bisa langsung lulus dan bisa lebaran tanpa beban. Amin...

Wish me luck ^^

Kamis, 01 April 2010

::yang tersisa dari yang hilang::

Sewaktu saya jalan2 di Korea, kamera saya sempet error dan memformat ulang secara otomatis kartu memori yang berisi foto2 perjalanan hari pertama dan kedua. Huaaa....hikss. Setelah merengek-rengek dan bertanya sana sini, beberapa orang menyarankan untuk menggunakan software pe-recover data. Akhirnya saya mendownload software tersebut untuk menyelamatkan foto2 saya. Saya coba software itu, ternyata hanya bisa mengembalikan beberapa foto saja, itu pun tidak sempurna karena hampir 1/3-1/2 bagian dari foto tersebut hilang, menjadi warna abu-abu. Berikut ini beberapa foto yang masih bisa terselamatkan dari tragedi tersebut.

Foto salah satu palace di kota Seoul, saya lupa ini palace yang mana karena ada banyak palace di kota Seoul.
However, ini satu-satunya foto perjalanan hari pertama yang bisa terselamatkan.


Dua foto di atas adalah foto Hangang River's bank di senja hari.
Tempatnya bersih dan enak buat jalan-jalan dan sepedaan di sore hari.
Anyway, saya suka sekali gradasi langit biru-orangenya juga siluet pohon-pohonnya.
My favorite pics.


Just another nightview of Hangang River and Seoul City.
Diambil dari lantai ke-63, 63 Building (mantan bangunan tertinggi di kota Seoul)


Wishing board di Nami Island.
Saya suka sama gambar hippopotamus nya.


Ini foto terakhir yang saya ambil sebelum kamera saya error. Masih di Nami Island.
Kayaknya saya kualat sama pasangan ini karena ngambil foto mereka diam-diam, haha.. :P

***

Jumat, 26 Maret 2010

Kulineran di Negeri Gingseng


Jika selama travelling di Jepang saya biasa menghemat uang makan dengan membeli onigiri, maka di Korea saya agak memanjakan diri dan sedikit berboros-boros dalam hal membeli makanan. Selain karena harga makanan di Korea yang relatif lebih murah, cita rasa yang ditawarkannya pun sangat menggiurkan. Pedas! Rasa yang sangat saya rindukan setelah hampir lima bulan tinggal di negeri matahari terbit.

You are what you eat. Perbedaan karakteristik antara orang Jepang dan Korea mencerminkan apa dan bagaimana mereka makan. Orang Jepang yang serba teratur, detail, dan kalem terbiasa makan-makanan yang rasanya cenderung hambar, tidak terlalu tajam, dengan berbagai bentuk yang sangat indah dan detail. Sementara itu, orang Korea yang cenderung lebih dinamis, cerewet, dan galak lebih menyukai makanan yang pedas dan asam. Mereka juga tidak terlalu menaruh perhatian pada tampilan makanan dan sangat suka mengaduk campur semua makanan bersama nasi.

Makanan korea dihidangkan bersama banchan (lauk-pauk sampingan) yang biasanya berbeda-beda untuk tiap masakan. Banchan biasanya terdiri dari berbagai macam sayur dingin, tahu, kentang ataupun bihun serta semangkuk kuah sup dalam porsi kecil. Meskipun jenis banchan biasanya berbeda-beda untuk tiap jenis masakan yang disajikan, ada satu makanan yang tidak pernah absen dari meja, Kimchi. Kimchi adalah makanan tradisional Korea, salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Sayuran yang paling umum dibuat kimchi adalah sawi putih dan lobak. Orang korea makan menggunakan sendok dan sumpit. Agak berbeda dengan Jepang, sumpit di Korea lebih panjang dan pipih serta terbuat dari stainless steel.

Berikut ini adalah makanan-makanan yang saya makan selama perjalanan saya 5 hari di Korea Selatan.

Seafood friedrice (Haemul bokkeumbap)

Ini adalah makanan pertama yang saya makan di Korea. Nasi goreng ala Korea yang dimasak dengan berbagai jenis seafood – mulai dari udang, cumi-cumi, kerang, sampai gurita – dengan taburan nori di atasnya dan telur setengah matang. Jika dibandingkan dengan nasi goreng Indonesia, rasa nasi goreng ini cenderung lebih lembut, tanpa kecap dan saos. Sangat maknyuss untuk mengobati perut yang kelaparan dan cukup hangat untuk menghadapi suhu di luar ruangan yang saat itu mencapai minus 5 derajat.

Hot Spicy Tuna and Seafood

Sebelum melakukan perjalanan di hari pertama, saya dan Damara memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Untunglah kami berhasil menemukan sebuah restoran yang sudah buka pada jam 7 pagi kala itu. Kami memesan Hot Spicy Tuna (untuk saya) dan Hot Spicy Seafood (untuk Damara). Masakan ini disajkan di sebuah piring oval besar yang di Indonesia biasanya digunakan untuk piring sayur/lauk dengan perbandingan nasi : lauk, 1: 1. Ketika saya sedang enak-enak menikmati masakan yang lezat tersebut, tiba-tiba si Ahjumma pemilik warung makan tersebut menyuruh saya untuk mencampur aduk nasi dengan lauknya. Dia bilang seperti itulah cara orang Korea makan, tapi saya tetap bersikeras tak ingin mengaduk makanan saya, haha..

Turkish Cuisine


Karena di hari pertama perjalanan kami mengunjungi Itaewon, akhirnya kami memutuskan untuk mencicipi makanan di sebuah restoran halal yang banyak terdapat di area sekitar masjid sentral Seoul. Di sebuah restoran bernama Salam tersebut kami memesan menu yang sudah sangat lama tidak kami makan, daging ayam dan sapi, nasi putih, dan roti khan. Masakan dengan cita rasa timur tengah tersebut sangat lezat dan mampu mengobati kerinduan kami mengkonsumsi daging yang selama ini jarang kami makan. ^_^

Seafood Soup (Haemul jjigae)

Setelah berlelah-lelah mengelilingi pasar Insa-dong di hari kedua, kami mencari makan siang di sekitar daerah tersebut. Akhirnya kami memutuskan makan di sebuah rumah makan dengan menu berbahasa Inggris, setelah keluar masuk beberapa gang. Karena udara di luar saat itu cukup dingin, kami memutuskan untuk memesan sup seafood yang hangat. Sup seafood ini berisi berbagai macam seafood, tofu, dan juga jamur hioko dengan kuah berbumbu miso. Sangat lezat dan hangat!!

Cold Noodle

Sewaktu di Namiseoum, kami masuk ke sebuah restoran yang tampaknya memiliki menu berbahasa Inggris. Dengan bantuan seorang waiter akhirnya kami memilih sebuah menu mi yang insyaAllah halal karena tidak menggunakan daging. Ternyata saya salah memesan menu (T-T). Si waiter tersebut tidak mengatakan bahwa mi tersebut disajikan dingin. Huweee…saya cukup terkejut ketika saya menyentuh mangkok mie itu pertama kalinya. Kok dingiin?? Itulah pertama kalinya saya makan mie dingin, di musim salju pula. Selain dingin, mie tersebut juga terasa asing di lidah saya. Karena bumbu sambal yang rasanya tidak jelas di lidah saya serta mie yang sangat kenyal sehingga susah ditelan, dengan sangat menyesal (karena salah pilih menu), bete (karena si waiter ga bilang kalo itu mie dingin), dan mual (karena rasanya yang ga jelas) akhirnya saya gagal menghabiskan menu tersebut. (-_-“)

Temple Food

Pada hari keempat, kami pergi menuju daerah selatan Koera, Daegu dan Busan. Tempat tujuan kami di Daegu adalah Donghwasa Temple, sebuah kuil Budha yang terletak di sebuah bukit di sebelat utara kota Daegu. Ketika kami akan beranjak dari kuil tersebut, seorang wanita menghampiri kami. Wanita yang ternyata pemandu wisata sukarela untuk kuil tersebut mengajak kami mencoba masakan kuil yang biasa dimakan oleh para biksu. Karena penasaran dan gratis, kami menyetujui ajakannya. Masakan kuil hanya terdiri dari tumbuh-tumbuhannya saja karena para biksu dilarang membunuh makhluk hidup lainnya (padahal ya tumbuhan juga makhluk hidup ;p). Kantin tempat kami makan tersebut terbuka untuk umum dan siapa saja diperbolehkan untuk makan di sana secara cuma-cuma. Untuk masakannya sendiri, menurut saya rasanya agak hambar, kurang berbumbu. Tapi saya cukup menikmatinya karena jarang-jarang atau mungkin cuma sekali itu saya bisa menikmati masakan kuil. (^_^)

Seafood Steamboat (Haemul… entahlah)

Masih di hari keempat, setelah menghabiskan sore romantis (hueekk… >,<) di pinggir pantai Haeundae – Busan, saya dan Damara memutuskan mencari makan malam. Di sepanjang jalan dari Stasiun menuju pantai, banyak terdapat restoran seafood yang membuat air liur menetes, serta mata membelalak karena harganya yang suangat muahal sekuali. Setelah berputar-putar cukup lama akhirnya kami menemukan sebuah restoran yang harganya cukup terjangkau dan kelihatan enak. Ternyata kali ini kami cukup beruntung. Makanan yang disajikan sangat lezat, porsinya besar dengan harga yang terjangkau, huehehe… =3. Kami memesan 1 porsi seafood steamboat extra hot ukuran besar untuk berdua. Isi seafoodnya cukup lengkap, ada udang, ikan, kepiting, kerang, cumi-cumi, hingga gurita. Rasa pedasnya pun mantap, sangat maknyuss dan mampu mengobati kekecewaan kami karena tragedi cold noodle sehari sebelumnya. (^_^)


Jalan-jalan di Negeri Sakura

Salah satu bagian yang paling saya sukai dari travelling adalah planning. Rasanya seneng aja cari tahu sebanyak-banyaknya tentang suatu tempat, bikin rencana perjalanan, budgeting, cari-cari hostel, bus, kereta, pesawat termurah dan sebagainya, walaupun pada akhirnya saya sangat suka menghancurkan rencana perjalanan itu sendiri dan pergi sesuai kehendak hati. ^_^. Dengan tersedianya informasi yang sangat memadai di Jepang, hampir semua hal mengenai perjalanan bisa direncanakan.

Berikut ini adalah beberapa informasi yang bermanfaat dalam merencanakan perjalanan selama di Jepang.

Informasi Umum

Informasi mengenai suatu tempat biasanya daya dapatkan dari situs japan-guide.com. Situs ini berisi informasi yang sangat lengkap mengenai tempat-tempat wisata di seluruh wilayah Jepang, mulai dari review tempat wisata, akses menuju tempat-tempat tersebut, rute bus, dan special bus/subway ticket di suatu kota. Biasanya tiap kota memiliki special pass untuk tourist yang dapat digunakan selama 1-2 hari. Ada yang sifatnya unlimited (mau naik bus berapa kali pun dalam 1 atau 2 hari) ada juga yang limited (biasanya antara 15-20 kali sehari). Menurut saya sendiri, special pass yang paling OK dimiliki oleh kota Osaka. Pass-nya Osaka tidak hanya digunakan untuk transportasi saja tetapi juga include tiket masuk ke beberapa tempat wisata yang total nilainya bisa mencapai 4 kali lipat harga special pass itu sendiri.

Transportasi

Seishun Juhachi Kippu adalah tiket spesial liburan murah meriah yang dikeluarkan oleh JR. Tiket ini dapat digunakan untuk naik kereta api (hanya local, rapid, dan beberapa sleeper train) yang dikelola oleh JR di seluruh penjuru Jepang, mulai dari Hokkaido hingga Kyushu, selama 5 hari (tidak harus berturut-turut). Tiket ini juga bisa digunakan oleh 5 orang dalam 1 hari, 2 orang dalam 2 hari, atau kombinasi lainnya. Kelemahannya tentu saja karena menggunakan local train kita harus sering-sering berganti kereta api. Dari Hiroshima hingga Tokyo saja kita harus transfer hingga 9 kali. Untuk mengatasi hal tersebut kita juga bisa menggunakan sleeper train (kereta malam), tapi dengan begitu berarti kita menggunakan 2 jatah tiket kita untuk 2 hari.

Namun demikian, tiket ini tetap saja populer dikalangan para wisatawan (khususnya mahasiswa asing dengan uang pas-pasan) karena memberikan kesempatan akses ke seluruh penjuru Jepang dengan harga yang sangat terjangkau. Untuk menggunakan Seishun Juuhachi Kippu tentu saja kita harus mengetahui dengan pasti jadwal kereta yang akan kita naiki, dimana harus turun dan berganti kereta. Informasi lengkap mengenai jadwal kereta api dan subway di seluruh Jepang dapat diperoleh di situs Hyperdia.

Mode transportasi lainnya yang juga masih terjangkau adalah bus malam. Selain karena harganya yang murah, dengan menggunakan bus malam kita bisa menghemat biaya penginapan. Informasi mengenai highway bus juga bisa didapatkan di situs japan-guide.com. Pemesanan tiket bus bisa dilakukan secara online, langsung ke stasiun/terminal, ataupun melalui convenient store. Salah satu perusahaan bus favorit saya adalah Willer Express karena mereka menawarkan berbagai pilihan kelas, mulai dari kelas ekonomi yang kursinya standar kursi bus Eksekutif AC di Indonesia, hingga kelas eksekutif yang kursinya menyerupai kursi penerbangan kelas bisnis yang lebar dengan sandaran kaki plus selimut yang membuat perjalanan menjadi super duper nyaman.

Akomodasi

Salah satu hal yang juga tidak kalah penting selain transportasi adalah masalah akomodasi. Walaupun hanya digunakan di malam hari, sangat penting untuk mendapatkan tempat berisitirahat yang nyaman setelah seharian berjalan kaki berkilo-kilo meter menjelajahi kota. Biasanya saya mencari hostel yang murah tetapi nyaman dan layak huni. Informasi mengenai hostel bisa di dapatkan di banyak situs, seperti misalnya di Hostelworld. Dari situs ini kita bisa membandingkan antara hostel yang satu dengan lainnya, baik dari sisi fasilitas, kualitas, maupun harga. Jangan hanya melihat tampilan fotonya saja, tetapi baca juga review orang-orang yang pernah menginap di sana karena kadang foto saja bisa menipu.

Yang terakhir, jangan lupa cari Tourist Information Center sesampainya di kota tujuan untuk mencari info tambahan serta meminta peta dan guide book gratis. Pembelian sepcial pass juga biasanya dilayani di Tourist Information Center yang biasanya terletak di Main Station.